Assalaam Observatory: Integrasi Ayat Qauliyah dan KauniyahObservatorium Assalaam. Selasa, 17 Feb 2026

Oleh: AR Sugeng Riadi
(Kepala Pusat Astronomi Assalaam)

Penetapan awal Ramadhan 1447 H di Indonesia menghadirkan dinamika ijtihad yang luar biasa. Munculnya berbagai potensi tanggal mulai dari 17, 18, 19, hingga 20 Februari 2026 bukanlah sekadar perbedaan hari, melainkan refleksi dari kekayaan metodologi umat Islam dalam memaknai tanda-tanda alam yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Memahami akar perbedaan ini memerlukan tinjauan mendalam, baik dari sisi nash syar’i maupun parameter astronomi yang digunakan oleh masing-masing pihak.

*Landasan Syariat: Unifikasi dan _Rahmatan Lil ‘Alamin_*
Secara syariat, penentuan awal bulan Hijriah berakar pada pedoman Al-Qur’an dan Sunnah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 bahwa bulan sabit (hilal) adalah penunjuk waktu bagi manusia dan urusan haji. Dalam teknis pelaksanaannya, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk berpuasa dan beridul fitri karena melihat hilal, serta menggenapkan bilangan bulan jika hilal terhalang mendung.

Implementasi metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini diadopsi oleh Muhammadiyah didasarkan pada ayat-ayat yang menegaskan prinsip unifikasi umat (_ummah wahidah_), universalisme Islam (_rahmatan lil ‘alamin_), dan isyarat sistem waktu yang terpadu. Hadits Nabi SAW mengenai perintah berpuasa dipahami secara global melalui penggunaan kata ganti plural (_dhamir jam’_), yang bermakna perintah tersebut ditujukan untuk seluruh umat Islam tanpa batasan teritorial tertentu. Hal ini melahirkan konsepsi fikih Matlak Global (_Ittihad al-Mathali’_), di mana jika hilal telah definitif di suatu tempat di muka bumi, maka keberlakuannya mencakup seluruh dunia.

*Paradigma Global: Kepastian di Alaska dan Jangkauan KHGT*
Muhammadiyah telah resmi meninggalkan metode Wujudul Hilal dan beralih sepenuhnya ke KHGT. Metode ini bertumpu pada tiga hal yang saling terkait: Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP). Salah satu parameter utamanya adalah syarat ketinggian hilal minimal 5 derajat dan sudut elongasi minimal 8 derajat di mana saja (bukan di satu tempat tertentu) di permukaan bumi setelah terjadinya konjungsi (ijtimak).

Untuk awal Ramadhan 1447 H, konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01 UTC atau 19:01 WIB. Berdasarkan perhitungan astronomis, pasca terbenam matahari hari itu, parameter 5-8 derajat tersebut telah terpenuhi secara definitif di wilayah Alaska, Amerika Serikat, dengan posisi ketinggian 05° 23’ 01” dan elongasi 08° 00’ 06”. Atas dasar keterpenuhan parameter di titik global inilah, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 secara pasti dan praktis.

*Perspektif Turki: Syarat Daratan dan Kepadatan Penduduk*
Menariknya, meskipun otoritas Turki (Diyanet) juga mengacu pada kriteria global yang sama (tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat), mereka menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Berdasarkan penjelasan resmi dari Kedutaan Besar Turki, mereka menetapkan syarat tambahan bahwa kondisi tersebut harus terpenuhi di atas wilayah daratan (_landmass_) benua Amerika. Pengamatan dari wilayah samudra atau pulau-pulau kecil tidak diperhitungkan karena alasan sosiologis terkait kepadatan penduduk yang melakukan observasi.

Pada petang 17 Februari 2026, kriteria 5-8 derajat tersebut menurut Turki hanya terpenuhi di wilayah Samudra Pasifik, Kepulauan Aleutian, dan Kepulauan Fox di Alaska. Wilayah-wilayah ini tidak dianggap sebagai bagian dari daratan utama benua Amerika karena rendahnya populasi penduduk. Oleh karena itu, Turki memutuskan untuk menggenapkan bulan Sya’ban dan memulai Ramadhan pada 19 Februari 2026.

*Paradigma Lokal dan Teritorial:* Pemerintah RI dan Ormas Lain
Di Indonesia, Pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria New MABIMS yang membatasi pengamatan pada wilayah teritorial Indonesia dengan ambang batas tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Pada petang 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk (negatif), sehingga tidak memenuhi kriteria tersebut. Oleh karena itu, diperkirakan Pemerintah akan menetapkan 1 Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026 setelah melalui proses Sidang Isbat.

Sementara itu, perbedaan juga muncul dari kelompok lain seperti Muslim Negeri Wakal di Maluku yang menetapkan 1 Ramadhan pada 17 Februari berdasarkan pengumuman setempat. Di sisi lain, Komunitas Rukyat Hilal Hakiki (KRHH) diprediksi akan memulai awal Ramadhan pada 20 Februari 2026.

Penutup:

Antara Kepastian dan Keberagaman Ijtihad*
Salah satu nilai tambah dari metode KHGT Muhammadiyah adalah aspek kepastian dan kepraktisannya, di mana umat dapat merancang berbagai aktivitas Ramadhan jauh-jauh hari karena tanggalnya sudah definitif. Sebaliknya, metode Pemerintah memberikan ruang bagi konfirmasi lapangan melalui rukyat lokal sebelum keputusan final diambil secara definitif melalui Sidang Isbat.

Secara fikih, baik metode global maupun lokal memiliki landasan dalil dan argumen masing-masing. Perbedaan teknis mengenai batas keberlakuan wilayah dan ambang batas visibilitas hilal ini merupakan bagian dari dinamika ilmiah yang seharusnya disikapi dengan bijak, dengan tetap mengedepankan maslahat bagi umat dan semangat _ukhuwah Islamiyah_.

BAHAN BACAAN:
* CNN Indonesia (13/02/2026). Muslim Negeri Wakal Maluku Tetapkan 1 Ramadan Jatuh pada 17 Februari.
* Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2025). Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H.
* Pimpinan Pusat Persatuan Islam (2026). Edaran PP PERSIS Nomor 2317/JJ-C.3/PP/2026.
* Kedutaan Besar Republik Turki di Jakarta (19/05/2025). Surat Konsultasi Mengenai Perbedaan Perhitungan Ramadan 2026.
* Butar-Butar, Arwin Juli Rakhmadi (14/02/2026). Mengapa Muhammadiyah Menetapkan Awal Ramadan 18 Februari?. OIF UMSU.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *