Sejarah Observatorium Assalaam

Sejarah Observatorium Assalaam

Demi menunjang kegiatan CASA, didirikan laboratorium khusus ilmu falak atau Observatorium yang berlokasi di bagian Timur bangunan Assalaam Center. Pembangunan Observatorium dimulai sekitar tahun 2010 dan pertama kali digunakan untuk melakukan pengamatan transit Venus pada tahun 2012. Observatorium Assalaam diresmikan oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, pada Senin, 6 Juli 2015.

Observatorium belum berkembang di lingkungan pesantren disebabkan beberapa faktor. Menurut Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar (2020) beberapa faktor tersebut antara lain ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki pemikiran dan konsentrasi di bidang astronomi dan observatorium, biaya membangun observatorium yang memang relatif besar, penyediaan instrumen-instrumen astronomi, dan pemahaman pimpinan sebuah lembaga pendidikan terhadap arti penting observatorium.
Dari ribuan pesantren yang sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam adalah salah satu yang mampu menembus kendala dan faktor penghambat kemajuan dalam bidang astronomi, dengan membangun observatorium yang representatif. Observatorium Assalaam tumbuh dan berkembang pesat, berbagai kegiatan edukasi, pengamatan dan penelitian langit (khususnya untuk para santri) kerap dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Dalam kegiatannya juga observatorium ini telah sepenuhnya melibatkan santri. Motto yang diangkat oleh observatorium ini adalah “Bringing Astronomy to the Santri” (Butar-Butar, 2020). Observatorium Assalaam menerapkan teknologi digital dalam melakukan rukyat hilal dan observasi obyek langit lainnya.


Observatorium Assalaam dari arah timur, tahun 2022.
 

Memasuki tahun 2010, salah satu kegiatan santri dalam bidang astronomi kian memberikan penguatan bagi PPMI Assalaam, utamanya dalam syiar dan publikasi di media, baik lokal, regional, nasional bahkan internasional. Selain memberikan andil tersebut, bidang astronomi dinilai sangat strategis oleh YMPIS karena pesan ayat al-Qur’an baik tersirat maupun tersurat terkait ayat-ayat kauniyah sangat banyak dan sejauh ini belum mendapatkan tempat dalam kurikulum pendidikan nasional maupun kurikulum pesantren. Menyadari hal tersebut, maka untuk mewujudkan peran serta kelembagaan dalam mencerdaskan ummat dalam bidang astronomi, terhitung mulai tahun 2010, YMPIS memberikan perhatian kepada keberadaan kegiatan santri yang tergabung dalam CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) ini. Wujud nyata perhatian YMPIS adalah pembangunan laboratorium khusus astronomi atau observatorium yang representatif dengan dukungan peralatan yang paling muta’akhir, yaitu dilengkapi dome atau kubah astronomi dan seperangkat alat optik sebagai penunjang kegiatan para santri. Langkah yang dilakukan YMPIS adalah dengan membentuk tim yang beranggotakan H. Habib Ruslan, H. Rochmat Yasin, Budi Prasetyo (alm), AR Sugeng Riadi, ditambah anggota dari proyek pembangunan yakni pak Yono dan Pak Ajib.

Proses Pembangunan Observatorium Assalaam dimulai tahun 2010.

Tugas utama tim adalah merencanakan dan melaksanakan pembangunan Observatorium Assalaam dengan melakukan survei ke lembaga terkait, yakni ke Planetarium dan Observatorium Jakarta dan Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung Barat. Misi utama survei adalah mempelajari cara kerja kubah/dome astronomi dan cara pembuatannya. Proses pembangunan Observatorium Assalaam dimulai pada tahun 2011 dan proses pembangunan memakan waktu sekitar 1 tahun. Detail pemanfaatan tiap lantai yaitu lantai-1 untuk Toko ABC (Koppontren Assalaam), lantai-2 untuk Kesantrian, lantai ke-3 hingga lantai ke-6 dimanfaatkan untuk Observatorium Assalaam, dan puncaknya ada di lantai ke-7, yakni bangunan kubah atau Dome Astronomi. Lokasi Observatorium Assalaam menempati lokasi di area bagian Timur Gelora (kini Assalaam Center).

Gedung Observatorium Assalaam (Sumber: g.page/AssalaamObs)

Observatorium Assalaam secara non-formal sudah digunakan untuk kegiatan astronomi para santri,baik rukyat hilal, pengamatan benda langit serta pembelajaran astronomi lainnya. Proses pembangunan Observatorium Assalaam selesai pada akhir 2011 dan mulai resmi digunakan pada awal tahun 2012. Pada tahun tersebut bersamaan adanya fenomena alam sangat langka yakni Transit planet Venus di permukaan Matahari pada 6 Juni 2012 dan dapat disaksikan sejak pagi hingga siang hari dan dihadiri ratusan masyarakat. Puluhan media meliput kegiatan di Observatorium Assalaam, salah satunya masuk dalam headline news Metro TV pukul 11 siang (06/06/2012).

Bintik hitam adalah planet Venus yang sedang melintasi di permukaan Matahari

Selain media nasional, media dan institusi internasional sekelas NASA juga ikut memberikan penghargaan kepada para santri Assalaam yang telah berhasil menggelar pengamatan transit planet Venus dan terbuka untuk masyarakat umum. Penghargaan dari NASA diberikan dalam bentuk Sertifikat Keikutsertaan dalam even astronomi Transit Venus 2012.

 

Sertifikat Penghargaan dari NASA

Memasuki 2013, keberadaan Observatorium Assalaam semakin diakui Pemerintah Republik Indonesia. Di penghujung tahun 2013, yang sekaligus menjadi puncak momentum sewindu CASA; Dr. Ahmad Izzuddin, M.Ag.; Ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia menerima usulan ustadz AR untuk memusatkan kegiatan Silaturrahmi Pegiat Falak se-Indonesia yang sekaligus diadakannya Lokakarya Nasional Ilmu Falak 2013 di markas CASA.

Hiruk pikuk kota Sukoharjo Jawa Tengah tidak mempengaruhi keberlangsungan kegiatan besar yang diadakan oleh Club Astronomi Santri Assalaam (CASA) bekerjasama sama dengan Team Penggagas dalam rangka Lokakarya Nasional dan Silaturahmi Komunitas Ilmu Falak se-Indonesia yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam bertepatan pada tanggal 28-29 Desember 2013, dihadiri oleh seluruh elemen komunitas yang datang secara kelembagaan, organisasi, akademisi maupun individual. Acara ini digagas dengan tujuan adanya forum silaturahmi antar komunitas Ilmu Falak se-Indonesia guna menjalin hubungan komunikasi antar sesama komunitas agar terjalin hubungan yang sinergi menuju kepada kemajuan pengembangan peradaban keilmuan bangsa dan kebersatuan umat dalam satu wilayah Negara Indonesia.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Abdul Jamil yang didampingi oleh Kasubdit Hisab-Rukyat Pusat Kemenag RI, Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag dan perwakilan dari Kepala Kantor Kementerian Agama Surakarta, Drs. Musta’in Ahmad, SH., M.H. Dalam sambutan dan pengarahannya, Prof. Dr. H. Abdul Jamil mengatakan bahwa pemerintah akan berusaha untuk memberikan pengertian dan maklumat serta berusaha untuk menyatukan perbedaan yang telah terjadi di masyarakat dengan event-event kegiatan semacam seminar, lokakarya, diklat, dan sejenisnya. Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag juga menyampaikan bahwa salah satu tujuan diadakan acara kegiatan ini tidak lain hanyalah ingin mempersatukan komunitas dari berbagai penjuru tanah air untuk mendapatkan kata sepakat. Bapak Dirjen Bimas Islam Kemenag RI dalam sambutan serta pengarahan kepada peserta keesokan harinya, menyatakan kegiatan ini menunjukkan bahwa pegiat komunitas ilmu falak di Indonesia semakin ada perhatian, terbukti dengan terselenggaranya kegiatan ini yang dihadiri dari seluruh elemen komunitas dan pegiat ilmu falak dari Sabang hingga Merauke.

Dalam kesempatan ini juga, selaku tuan rumah Direktur Pondok Pesantren Modern Assalaam yang diwakili oleh Drs. H. Ma’ruf Rahmat sebagai wakil direktur memberikan kata sambutan dengan rasa kebahagiaan, bahwa acara ini bisa sukses dan berlangsung atas dukungan dari semua pihak terutama pihak Yayasan dan CASA serta seluruh peserta yang hadir, dimana para peserta memiliki kebesaran jiwa untuk mengembangkan keilmuan falak. Pada akhir acara ini, terpilihlah secara mufakat Pembina Club Astronomi Santri Assalaam (CASA), AR Sugeng Riadi didaulat sebagai ketua DPP Asosiasi Maestro Astronomi dan Ilmu Falak Indonesia Merdeka (ASTRO FISIKA) dan dideklarasikanlah nama organisasi tersebut sebagai wadah pemersatu dan silaturahmi antar komunitas Ilmu Falak Indonesia dan jadilah CASA sebagai “Sang Raja” untuk menahkodai ASTRO FISIKA.

Dirjend Bimas Islam menyerahkan Taqwim Standar Indonesia, tahun 2013

Selain Kementerian Agama RI, Observatorium Bosscha dan ITB pun turut memberikan support dengan mengundang ustadz AR Sugeng Riadi selaku pembina CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) untuk menyampaikan presentasi terkait sejarah dan perkembangan CASA dalam perhelatan HAI (Himpunan Astronomi Indonesia) dan memperingati 90 Tahun Observatorium Bosscha di Lembang, 1-2 Oktober 2013.

 

Pembina CASA memaparkan sejarah CASA di Bandung, 2 Oktober 2013.

Memasuki tahun 2014, Pembina CASA, ustadz AR menjadi salah satu peserta dalam Mudzakarah Rukyat dan Taqwim Islam MABIMS, semacam pertemuan ahli falak negara-negara ASEAN khususnya yang tergabung dalam MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura di hotel Golden Boutique Jl. Angkasa No. 1 Kemayoran Jakarta, pada 21-23 Mei 2014. Acara ini membahas perkembangan terkini ilmu falak di negara masing-masing. Acara dibuka langsung oleh Menteri Agama RI, Dr. Surya Darma Ali. Acara berlangsung selama dua hari.

 

Pembina CASA mengikuti Mudzakarah MABIMS di Jakarta, Mei 2014.

Tahun 2015 merupakan tahun peresmian Observatorium Assalaam. Masih dalam nuansa semarak ulang tahun CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) yang kesepuluh (2005-2015) ini, PPMI Assalaam berkesempatan menjadi tuan rumah agenda astronomi nasional, Halaqah Falakiyah. Acara yang dimulai sejak tanggal 5 hingga 7 Juli ini memiliki tema “Membumikan Ilmu Falak di Indonesia” dan dihadiri oleh para pengasuh pondok pesantren sekaligus pegiat ahli falak se-Indonesia.

Kedatangan Menteri Agama Republik Indonesia, H Lukman Hakim Saifuddin, merupakan cerita tersendiri karena selain menjadi salah satu narasumber dalam halaqah yang bertujuan menyatukan kalender Hijriah, beliau juga meresmikan salah satu kebanggaan CASA, yakni Observatorium Assalaam.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saefuddin meresmikan Observatorium Assalaam, 6 Juli 2015.
 

Prasasti peresmian Observatorium Assalaam
(Sumber: Perpustakaan Observatorium Assalaam)