Pada malam pertengahan Ramadhan 1447 H, tepatnya hari Selasa, 3 Maret 2026, langit akan menyuguhkan fenomena astronomis yang memukau: Gerhana Bulan Total (GBT). Peristiwa ini terjadi ketika seluruh piringan Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi, menciptakan rona kemerahan yang khas akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi.
Data Teknis Fenomena
Berdasarkan perhitungan dari Assalaam Observatory, gerhana kali ini memiliki Magnitudo Penumbra sebesar 2.184 dan Magnitudo Umbra sebesar 1.151. Seluruh proses totalitas akan berlangsung selama 58 menit 19 detik.
Bagi pengamat di wilayah WIB (Solo Raya), fenomena dimulai saat Bulan terbit pada pukul 17:54:27 WIB dengan posisi tepat di ufuk (altitudo 0.0°). Tak lama berselang, fase totalitas (U2) akan dimulai pada pukul 18:04:30 WIB. Puncak gerhana dapat disaksikan pada pukul 18:33:41 WIB saat Bulan berada di ketinggian 9.4°. Rangkaian totalitas akan berakhir (U3) pada pukul 19:02:49 WIB, diikuti berakhirnya fase parsial (U4) pada pukul 20:17:15 WIB, dan seluruh rangkaian gerhana akan benar-benar usai pada pukul 21:23:05 WIB.
Gerhana Bukan Dalil Penentuan Awal Bulan
Penting untuk ditegaskan kembali kepada masyarakat bahwa secara kaidah Falakiyah dan Syar’iyyah, gerhana bukanlah rujukan untuk menentukan awal bulan Hijriah:
- Perbedaan Fase Geometris: Gerhana Bulan selalu terjadi pada fase Isti’bal (oposisi), yang secara alami menempatkannya di pertengahan bulan. Sementara itu, penentuan awal bulan seperti Ramadhan atau Syawal mutlak bersandar pada fase Ijtima’ (konjungsi) dan kemunculan Hilal.
- Karakteristik Fenomena: Gerhana merupakan peristiwa tertutupnya cahaya, sedangkan awal bulan ditandai dengan munculnya cahaya pertama Hilal. Oleh karena itu, hadirnya gerhana tidak bisa dijadikan dalil hukum untuk menetapkan mulainya tanggal 1 Ramadhan.
Gerhana Bukan Alat Justifikasi Kriteria Visibilitas Hilal
Sering kali muncul upaya untuk mengaitkan presisi waktu gerhana dengan kebenaran kriteria visibilitas Hilal tertentu (seperti MABIMS atau kriteria lainnya). Namun, secara astronomis hal ini tidak tepat karena:
- Geometri yang Tidak Searah: Gerhana Bulan adalah fenomena titik oposisi (elongasi 180°), sedangkan awal bulan adalah fenomena pasca-konjungsi dengan elongasi yang sangat kecil. Ketepatan prediksi gerhana didasarkan pada mekanika benda langit yang sangat presisi, namun tidak bisa digunakan untuk membenarkan kriteria visibilitas mana yang paling “sesuai”.
- Sistem yang Independen: Terjadinya gerhana di malam pertengahan bulan tidak secara otomatis menggugurkan atau membenarkan ketetapan awal bulan sebelumnya. Variasi visibilitas Hilal dipengaruhi oleh kompleksitas atmosfer dan optik yang berbeda dengan parameter geometri gerhana.
Kesimpulan
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 adalah tanda kebesaran Allah SWT yang memperindah malam ibadah kita di bulan Ramadhan. Mari kita jadikan momen ini sebagai sarana edukasi publik bahwa Ilmu Falak menempatkan gerhana dan hilal pada porsinya masing-masing, selaras dengan tuntunan syariat dan kaidah sains yang murni.
“Bersama CASA, Mengintip Gerbang Semesta”
“Bringing Astronomy to the Santri”
